Wednesday, February 20, 2013

KONSEP DASAR KEPERAWATAN PERIOPERATIF


KONSEP DASAR KEPERAWATAN PERIOPERATIF

PENDAHULUAN

Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hapir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah, dokter anstesi dan perawat) di samping peranan pasien yang kooperatif selama proses perioperatif.
Ada 3 faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu penyakit pasien, jenis pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. dari ketiga faktor tersebut faktor pasien merupakan hal yang paling penting, karena bagi penyakit tersebut tidakan pembedahan adalahhal yang baik/benar. Tetapi bagi pasien sendiri pembedahan mungkin merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mengingat hal terebut diatas, maka sangatlah pentig untuk melibatkan pasien dalam setiap langkah-langkah perioperatif. Tindakan perawatan perioperatif yang berkesinambungan dan tepat akan sangat berpengaruh terhadap suksesnya pembedahan dan kesembuhan pasien.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN PERIOPERATIF

Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif maupun kedaruratan adalah peristiwa kompleks yang menegangkan. Kebanyakan prosedur bedah dilakukan di kamar operasi rumah sakit, meskipun beberapa prosedur yang lebih sederhana tidak memerlukan hospitalisasi dan dilakukan di klinik-klinik bedah dan unit bedah ambulatori. Individu dengan masalah kesehatan yang memerlukan intervensi pembedahan mencakup pula pemberian anastesi atau pembiusan yang meliputi anastesi lokal, regional atau umum.

Bagian selanjutnya dibahas tentang :

- Gambaran umum masing-masing tahap dalam keperawatan perioperatif
- Phases of Surgery
- Phase Description Typical activities

- Contoh Aktivitas Keperawatan dalam Peran Perawat Perioperatif
-  FASE PRAOPERATIF FASE INTRAOPERATIF FASE POSTOPERATIF
PEMBEDAHAN : INDIKASI DAN KLASIFIKASI
TAHAPAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF
Keperawatan perioperatif dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu :
A.     Keperawatan Pre Operatif
B.     Keperawatan Intra Operatif
C.    Keperawatan Post Operatif

Penjelasan lengkap




Enhanced by Zemanta

Anatomy Pictures

Hand Anatomy Pictures
 

 

 

Wrist Anatomy Pictures
 

 

 


Tuesday, February 19, 2013

Understanding NEUROLOGY


Understanding
NEUROLOGY
Consultant Neurologist
Institute of Neurological Sciences, Southern General Hospital, Glasgow Professor of Neurology
Institute of Neurological Sciences, Southern General Hospital, Glasgow


Further sources of information

ASSOCIATION OF BRITISH NEUROLOGISTS
www.theabn.org
Comprehensive, good for doctors and patients, links
to disease-specific websites.
PATIENT ADVICE
www.neuroguide.com
Good North American site with links to patient
information sites.
THE NEUROLOGICAL ALLIANCE
www.neural.org.uk
Umbrella organization bringing together various
neurological charities and interest groups.
www.theabn.org/public/patientcarer.php
Source of disease-specific information for patients
and carers.
GUIDELINES
www.nice.org.uk
Applies to the NHS in England & Wales.
www.sign.ac.uk
Evidence-based guidelines, does not cover all
neurological areas.
OTHER USEFUL INFORMATION
www.dvla.gov.uk/at_a_glance/content.htm
Invaluable as a source of driving regulations for all
neurological conditions, not just epilepsy.

Copyright © 2007 Manson Publishing Ltd
ISBN-10: 1-84076-061-3
ISBN-13: 978-1-84076-061-3
All rights reserved. No part of this publication may be reproduced, stored in a retrieval system or transmitted in any form or by any means without the written permission of the copyright holder or in accordance with the provisions of the Copyright Act 1956 (as amended), or under the terms of any licence permitting limited copying issued by the Copyright Licensing Agency, 33–34 Alfred Place,
London WC1E 7DP, UK.
Any person who does any unauthorized act in relation to this publication may be liable to criminal prosecution and civil claims for damages.
A CIP catalogue record for this book is available from the British Library.
For full details of all Manson Publishing Ltd titles please write to:
Manson Publishing Ltd, 73 Corringham Road, London NW11 7DL, UK.
Tel: +44(0)20 8905 5150
Fax: +44(0)20 8201 9233
Website: www.mansonpublishing.com
Commissioning editor: Peter Altman
Project manager: Ruth Maxwell
Copy-editor: Ruth Maxwell
Cover design: Cathy Martin, Presspack Computing Ltd
Book design and layout: Cathy Martin, Presspack Computing Ltd
Colour reproduction: Tenon & Polert Colour Scanning Ltd, Hong Kong
Printed by: New Era Printing Co Ltd, Hong Kong



BLACK’S
MEDICAL DICTIONARY
41ST EDITION

Edited by
Dr Harvey Marcovitch
A & C Black • London
41st edition published 2005
A & C Black Publishers Limited
37 Soho Square, London W1D 3QZ
www.acblack.com
ISBN 0–7136–6146–1
eISBN-13: 978-1-4081-0419-4
© 2005 A & C Black Publishers Limited
A CIP catalogue record for this book is available from the British Library
All rights reserved. No part of this publication may be reproduced in any form or by any means – graphic, electronic or mechanical, including photocopying, recording, taping or information storage and retrieval systems – without the prior permission in writing of the publishers.
In its earlier editions Black’s Medical Dictionary was edited by:
J. D. Comrie, MD—first to seventeenth editions, 1906–1942
H. A. Clegg, FRCP—eighteenth edition, 1944
W. A. R. Thomson, MD—nineteenth to thirty-fourth editions, 1948–1984
C. W. H. Havard, FRCP—thirty-fifth and thirty-sixth editions, 1987 and 1990
G. Macpherson, MB, BS—thirty-seventh to fortieth editions, 1992–2002
A & C Black uses paper produced with elemental chlorine-free pulp,
harvested from managed sustainable forests.
Typeset in Adobe Garamond by RefineCatch Limited, Bungay, SuffolkPrinted and bound by William Clowes Ltd, Beccles, Suffolk


Enhanced by Zemanta

Monday, February 18, 2013


Pentingnya Komunikasi Dalam Pelayanan Keperawatan

Artikel oleh:
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya selalu memerlukan orang lain dalam menjalankan dan mengembangkan kehidupannya. Hubungan dengan orang lain akan terjalin bila setiap individu melakukan komunikasi diantara sesamanya. Kepuasan dan kenyamanan serta rasa aman yang dicapai oleh individu dalam berhubungan sosial dengan orang lain merupakan hasil dari suatu komunikasi. Komunikasi dalam hal ini menjadi unsur terpenting dalam mewujudkan integritas diri setiap manusia sebagai bagian dari sistem sosial.
Komunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak yang sangat penting dalam kehidupan, baik secara individual maupun kelompok. Komunikasi yang terputus akan memberikan dampak pada buruknya hubungan antar individu atau kelompok. Tatanan klinik seperti rumah sakit yang dinyatakan sebagai salah satu sistem dari kelompok sosial mempunyai kepentingan yang tinggi pada unsur komunikasi.

Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal dan konsumen eksternal.
Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal an konsumen eksternal. Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja di rumah sakit, baik hubungan secara horisontal ataupun hubungan secara vertikal. Hubungan yang terjalin antar tim multidisplin termasuk keperawatan, unsur penunjang lainnya, unsur adminitrasi sebagai provider merupakan gambaran dari sisi konsumen internal. Sedangkan konsumen eksternal lebih mengarah pada sisi menerima jasa pelayanan, yaitu klien baik secara individual, kelompok, keluarga maupun masyarakat yang ada di rumah sakit.Seringkali hubungan buruk yang terjadi pada suatu rumah sakit, diprediksi penyebabnya adalah buruknya sistem komunikasi antar individu yang terlibat dalam sistem tersebut.


FUNDAMENTALS OF ONCOLOGY
FOURTH EDITION, REVISED AND EXPANDED

Henry C. Pitot
McArdle Laboratory for Cancer Research
University of Wisconsin Medical School
Madison, Wisconsin
With a Contribution by
Daniel D. Loeb
McArdle Laboratory for Cancer Research
University of Wisconsin Medical School
Madison, Wisconsin


clik Download

Saturday, February 16, 2013

Pentingnya Komunikasi Dalam Pelayanan Keperawatan


Pentingnya Komunikasi Dalam Pelayanan Keperawatan



Manusia sebagai makhluk sosial tentunya selalu memerlukan orang lain dalam menjalankan dan mengembangkan kehidupannya. Hubungan dengan orang lain akan terjalin bila setiap individu melakukan komunikasi diantara sesamanya. Kepuasan dan kenyamanan serta rasa aman yang dicapai oleh individu dalam berhubungan sosial dengan orang lain merupakan hasil dari suatu komunikasi. Komunikasi dalam hal ini menjadi unsur terpenting dalam mewujudkan integritas diri setiap manusia sebagai bagian dari sistem sosial.
Komunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak yang sangat penting dalam kehidupan, baik secara individual maupun kelompok. Komunikasi yang terputus akan memberikan dampak pada buruknya hubungan antar individu atau kelompok. Tatanan klinik seperti rumah sakit yang dinyatakan sebagai salah satu sistem dari kelompok sosial mempunyai kepentingan yang tinggi pada unsur komunikasi.
 Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal dan konsumen eksternal.
Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja Komunikasi di lingkungan rumah sakit diyakini sebagai modal utama untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang akan ditawarkan kepada konsumennya. Konsumen dalam hal ini juga menyangkut dua sisi yaitu konsumen internal an konsumen eksternal. Konsumen internal melibatkan unsur hubungan antar individu yang bekerja di rumah sakit, baik hubungan secara horisontal ataupun hubungan secara vertikal. Hubungan yang terjalin antar tim multidisplin termasuk keperawatan, unsur penunjang lainnya, unsur adminitrasi sebagai provider merupakan gambaran dari sisi konsumen internal. Sedangkan konsumen eksternal lebih mengarah pada sisi menerima jasa pelayanan, yaitu klien baik secara individual, kelompok, keluarga maupun masyarakat yang ada di rumah sakit.Seringkali hubungan buruk yang terjadi pada suatu rumah sakit, diprediksi penyebabnya adalah buruknya sistem komunikasi antar individu yang terlibat dalam sistem tersebut.

Friday, February 15, 2013

Buku CardioVascular Genomics

Buku CardioVascular Genomics
silahkan download CLik 
ACIkl

Abses paru-paru


Abses paru-paru

Abses paru-paru adalah nekrosis dari paru jaringan dan pembentukan rongga (lebih dari 2 cm) mengandung debris nekrotik atau cairan yang disebabkan oleh mikroba infeksi.
Ini-memenuhi rongga nanah sering disebabkan oleh aspirasi, yang mungkin terjadi selama kesadaran berubah. Alkoholisme adalah kondisi yang paling umum predisposisi abses paru-paru.
Abses paru-paru dianggap utama (60%) ketika hasil dari yang ada paru-paru parenkim proses dan disebut sekunder ketika merumitkan proses lain misalnya vaskular emboli atau berikut pecahnya ekstrapulmoner abses ke dalam paru-paru.
Penyebab
Kondisi berkontribusi untuk abses paru
§  Aspirasi dari orofaringeal atau lambung sekresi
§  Septic emboli
§  Necrotizing tumor : 8% sampai 18% adalah akibat neoplasma di semua kelompok umur, lebih tinggi pada orang tua; primer karsinoma skuamosa dari paru-paru adalah yang paling umum.
Organisme
Dalam pola era pasca-antibiotik frekuensi berubah. Dalam studi yang lebih tua anaerob ditemukan pada sampai dengan 90 kasus% tetapi mereka jauh lebih jarang sekarang.
§  Jamur : Candida , Aspergillus
§  Parasit: Entamoeba histolytica ,
Tanda dan gejala
Timbulnya gejala seringkali bertahap, tetapi dalam necrotizing staphylococcal atau gram negatif pasien pneumonia dapat bacillary akut. Batuk , demam dengan menggigil danberkeringat di malam hari sering hadir. Batuk dapat produktif dengan berbau busuk bernanah dahak (≈ 70%) atau kurang sering dengan darah (yaitu hemoptysis dalam satu kasus ketiga) . individu yang terkena mungkin juga mengeluhkan nyeri dada, sesak napas, kelesuan dan fitur lain dari penyakit kronis.
Pasien umumnya kurus di presentasi. Finger clubbing hadir di satu pertiga dari pasien . pembusukan gigi umum terutama pada pecandu alkohol dan anak-anak. Pada pemeriksaan dada akan ada fitur konsolidasi seperti kusam terlokalisasi pada perkusi , suara nafas bronkial dll
Diagnosis
Patologi citra abses paru-paru.
Dada Xray dan pencitraan lain
Abses sering unilateral dan single yang melibatkan segmen posterior lobus atas dan segmen apikal dari lobus lebih rendah daerah ini gravitasi tergantung saat berbaring. Kehadiran-cairan tingkat udara menyiratkan pecah ke dalam pohon bronkial atau jarang pertumbuhan organisme membentuk gas.
Laboratorium Studi
Dibesarkan penanda inflamasi (tinggi LED , CRP ) adalah biasa tapi tidak spesifik. Pemeriksaan dahak adalah penting dalam infeksi paru dan di sini sering mengungkapkan flora campuran. Transtracheal dari Transbronchial (melalui bronkoskopi) aspirasi juga dapat dibudidayakan. Serat optik bronkoskopi sering dilakukan untuk mengecualikan lesi obstruktif, tetapi juga membantu dalam drainase bronkial nanah.
 Manajemen
Broadspectrum antibiotik untuk menutupi flora campuran adalah andalan pengobatan. fisioterapi paru dan drainase postural juga penting. prosedur bedah yang diperlukan pada pasien selektif untuk drainase atau reseksi paru.
Komplikasi
Jarang sekarang tetapi termasuk penyebaran infeksi ke segmen paru lain, bronkiektasis , empiema , dan bakteremia dengan metastasis infeksi seperti abses otak  .
Prognosis
Sebagian besar kasus merespon antibiotik dan prognosis biasanya baik kecuali ada kondisi yang mendasarinya melemahkan. Kematian dari abses paru-paru saja adalah sekitar 5% dan meningkatkan.
Lihat pula
§  Lain infeksi paru-paru kronis
§  Empiema
§  Abses
Referensi
1.    Bartlett JG, SM Finegold (1972). "Infeksi pleuropulmonary anaerobik".. Pengobatan (Baltimore) 51 (6): 413-50
2.    "Pneumonia dan Infeksi paru lain: Abses Paru, Medscape" . Diarsipkan dari aslinya pada . Diakses 2007-06-20.
3.    Bartlett JG (2005). "Peran bakteri anaerob dalam abses paru-paru". Clin. Menginfeksi. Dis:. 40 (7) 923-5.
4.    Hirshberg B, Sklair-Levi M, Nir-Paz R, Ben-Sira L, V Krivoruk, Kramer MR (1999). "Faktor memprediksi kematian pasien dengan abses paru-paru.":. Chest 115 (3) 746-50.
5.    Moreira JDA S, jde Camargo J, Felicetti JC, PR Goldenfun, Moreira AL, Porto Nda S (2006). "Abses Paru: analisis 252 kasus didiagnosis berturut-turut antara 1968 dan 2004":. Jornal Brasileiro de pneumologia publicaça̋o oficial da Sociedade Brasileira de Pneumologia e Tisilogia 32 (2): 136-43. 

 Lanjut

kan Download Laporan Pendahuluan Clik


Enhanced by Zemanta